Minggu, 24 Januari 2010

Halal Pangkal Barakah

Untuk Putri-putriku

Kemajuan peradaban manusia berkembang dengan demikian pesatnya. Kemajuan peradaban tersebut diikuti dengan kemajuan disegala aspek kehidupan yang berdampak terhadap bertambahnya semua kebutuhan hidup manusia. Disatu sisi kebutuhan manusia semakin mengingkat, disisi lain lapangan pekerjaan semakin sulit. Kejahatan dan ketidak adilan muncul dimana-mana hampir diseluruh penjuru tanah air dan di semua kalangan masyarakat.

Menyikapi hal yang demikian itu, setiap manusia mempunyai cara-caranya sendiri dalam persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka. Bahkan banyak pula yang menggunakan cara-cara yang tidak terpuji untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan menghidupi keluarga. Tentunya kita wajib prihatin dengan fenomena tersebut, karena jika semua orang atau sebagian besar saja mempunyai semboyan bahwa " cari yang Haram saja susah Apalagi yang Halal", maka tidak bisa dihindari kehancuran kehidupan sudah diambang pintu. Tentunya kita harus kembali kepada ajaran Agama kita masing-masing yang pasti menuju kebaikan.

Berkaitan dengan kemajuan peradaban, peningkatan kebutuhan, persaingan hidup dan Aqidah agama, disini Saya hanya mengingatkan, khususnya untuk putri-putriku yang sedang beranjak dewasa. Hendaklah kita sebagai manusia wajib menempuh jalan yang baik dalan usaha kita mencari rizki, sebab tanpa rizki yang baik dan halal niscaya kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan baik didunia maupun di akhirat, saya yakin semua agama mengajarkan hal yang demikian itu. Bagi siapa saja terlebih orang tua yang sudah mempunyai anak maka jangan sekali-sekali memberikan nafkah kepada anaknya dengan rizky yang tidak halal karena pasti akan berakibat buruk bagi mereka dan seluruh keluarga secara umum. Semua itu sudah banyak bukti nyata yang dapat kita jadikan pelajaran. Jika kita makan Rizky yang halal maka ketenangan hidup pasti akan kita dapatkan, dan sebaliknya.

Semoga bermanfaat, dan semoga Allah SWT. selalu melindungi langkah kita dalam hidup di dunia ini, amin.

DOSA ISTRI YANG DURHAKA

by Andi Rahmanto
From : http://www.belajarislam.com


Allah Ta’ala berfirman, “Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka, hendaklah kalian menasehati mereka atau pisahkan mereka dari tempat tidur, atau pukullah mereka. Dan jika mereka sudah kembali taat kepada kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. An-Nisa’: 34)

Atha’ berkata, “Maksudnya adalah seorang istri yang mengenakan wewangian dihadapan (suami)nya, namun tidak mau ‘dikumpuli’, serta berubah sikap dan ketaatan yang dulu pernah dilakukannya.

Al-Wahidi rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan dengan ‘nusyuz’ pada ayat diatas adalah kedurhakaan terhadap suami, yakni merasa lebih tinggi dihadapan suaminya disaat terjadi perselisihan.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat (yang artinya) “Atau pisahkan mereka dari tempat tidur,” yakni dengan membelakanginya dan tidak mengajaknya berbicara. Sedangkan Sya’bi dan Mujahid menafsirkan dengan cara meninggalkan tempat tidurnya dan tidak menggaulinya.

Maksud firman-Nya (yang artinya), “Hendaklah kalian menasehati mereka,” yaitu nasehatilah mereka dengan kitab Allah dan ingatkanlah akan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka (para istri).

Tafsir ayat (yang artinya) “Atau pukullah mereka,” yakni memukulnya dengan pukulan yang tidak membahayakannya.

Sedangkan maksud firman-Nya (yang artinya) “Jika mereka menaati kalian,” adalah janganlah kalian (suami) mencari-cari alasan untuk menyakiti mereka (istri).

Jika seorang istri yang patuh kepada suaminya akan memperoleh keutamaan pahala yang besar, maka sebaliknya, istri yang durhaka kepada suaminya akan mendapat ganjaran dosa dan laknat baik dari Allah maupun makhluk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak datang, (maka) malaikat melaknatnya hingga pagi hari.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Seorang istri memiliki kewajiban yang besar untuk patuh kepada suaminya. Kepatuhan ini tentu tidak berlaku jika seorang suami memerintahkan istrinya untuk bermaksiat kepada Allah, sebab tidak ada kepatuhan terhadap perintah manusia dalam berbuat maksiat kepada Allah.

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Jika pada malam hari seorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya dan menolak ajakannya, maka penduduk langit marah kepadanya hingga suaminya rela kepadanya.” (HR. Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak diterima shalatnya, dan kebaikannya tidak diangkat kelangit: budak yang melarikan diri dari tuan-tuannya hingga ia kembali kepada mereka dan meletakkan tangannya pada mereka (menyerah dan taat); seorang istri yang dimarahi suaminya hingga ia ridha kepadanya; dan orang yang mabuk hingga siuman.” (HR. Thabrani dan Ibnu Khuzaimah)

Seorang bibi dari Hushain bin Muhsin bercerita perihal suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Lihatlah kedudukanmu dihadapannya, ia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Nasa’i)

Sudah seharusnya seorang istri berusaha untuk taat dan menunaikan kewajibannya terhadap suaminya. Begitu besarnya hak suami terhadap istrinya, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika aku diperbolehkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, pastilah aku akan menyuruh seorang wanita bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Seorang istri wajib meminta ridha suaminya dan menjaga dirinya dari kemarahannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Oleh karena itu, seorang istri berhati-hati dari kedurhakaan terhadap suaminya, karena kedurhakaannya bisa mengantarkannya kedalam neraka. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku melihat neraka, dan aku dapatkan ternyata sebagian besar penghuninya adalah wanita.

Hal itu disebabkan karena kurangnya ketaatan istri kepada Allah, Rasul-Nya, dan suami mereka. Selain itu, para istri itu pun sering ber-tabarruj (memamerkan dandanannya kepada orang lain). Tabarruj artinya seorang istri keluar dari rumahnya dengan mengenakan pakaian terbaiknya dan berdandan, serta bersolek hingga membuat orang-orang terfitnah oleh penampilannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, (melainkan) istrinya yang lain dari bidadari berkata, ‘Janganlah menyakitinya, semoga Allah membunuhmu.’” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Sumber:
Imam Adz-Dzahabi. 2008. Al-Kabair, Galaksi Dosa terjemah: Asfuri Bahri. Jakarta: Darul Falah